RSS

Hikmah dari toleransi

01 Sep

Saya baru saja membuka mata saya dalam hal “toleransi”….

saat saya sedang dalam suasana hati yang kurang nyaman, saya sedang mengartikan ucapan dan ungkapan teman-teman saya, mereka bilang saya terlalu ” menutup diri, terlalu mendengarkan kata hatinya sendiri” kata-kata yang terucap dari sahabat itu membuat langkah saya gontai seolah kurang yakin akan hal itu.

Kemudian saya turun dari mobil jemputan ditempat pemberhentian,  saya menunggu angkot -23 yang tak kunjung datang, saya kikuk dan risuh berdiri terlalu lama diatas jembatan Kota Legenda itu. rasanya ingin segera pulang dan berbaring santai dirumah,  sampai terbesit dalam hati saya, kalau saja ada angkot yang datang dia adalah jalan menuju yang paling say inginkan saat itu.

tidak terlalau lama dialog dalam hati itu terungkap, kemudian muncul angkot merah bata K-23 dengan jalan agak lama karena terlihat sedang menurunkan penumpangnya,  tapi kemudian terlihat angkot lain  yang melintas melewati angkot tadi yang sedang berhenti (menyalip) dengan kecepatan yang tinggi.

Saya saja sampai berfikir, mungkin supir angkot yang menyalip ini adalah type orang yang suka dengan jalur cepat meNuju apa yang dia inginkan tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri serta penumpangnya. Kemudian angkot penyalip itu pun berhenti tepat ditempat saya berdiri, sayangnya saya malah refleks  “mengelengkan kepala”  saya menunggu angkot yang pertama saya lihat tadi, karena saya merasa sangat ingin bersama orang yang perduli dan saya juga yakin dia bukan tidak menginginkan saya naik di angkotnya, namun ada kewajiban atas penumpang yang harus ia turunkan dahulu.

rupanya penolakan saya kepada ankot tadi, disaksikan oleh pak supir  dari angkot berhenti ini. saya jadi tau  hal itu karena setelah saya naik angkotnya, kemudian bapak supir itu menatap saya dari kaca spionnya.

mba kenapa ngga naik angkot tadi ?….

saya tau bapak yang duluan, tapi harus turunkan penumpang dulu jadi saya sabar aja tunggu bapak …

oooh, makasih mba…

iya pak  (tersenyum)…

Seolah naluri dari rasa kemanusiaan, tak disangka sikap saya barusan mungkin mengetuk hati bapak supir tadi. karena biasanya angkot2 itu setelah melewati jembatan akan ngetem di pertigaan untuk menunggu penumpang lainnya. tapi kali ini angkot yang saya tumpangi justru melewati pertigaan itu dengan cepat.

penumpang langganannya yang duduk dibelakang menggerutu ” biasanya lo mangkal dulu disana nunggu yang pulang dari pabrik napa lo cabut aja.. nih angkot lo masih kosong … kagak nyadar lo ya , bang !!!” nada nya berinteraksi sama pak Supir.

iya si mba tadi aja nungguin gw lewat, artinya pan kalo emang rejeki gw mah ngga perlu kelamaan ngetem… kasian juga si mba tadi dia ama penumpang gw yg udah ada didalem buru2 kali mau buka puasa dirumah…” jawab pak Supir.

Sementara pak supir berbicara seperti itu peumpang lainnya seolah kompakan menatap ke arah saya, saya  hanya bisa tersenyum simpul, karena sebenarnya hal ini sungguh menyentuh perasaan , tapi memang pada dasarnya sore itu suasana hati saya yang sedang galau. Jadi mohon maaf juga kepada penumpang yang hanya saya beri senyuman itu, untuk pak Supir, semoga hikmah kejadian hari ini membuat tawakal dan istikomah dalam mencari nafkah.

Alhamdulillah setibanya dirumah masih jam  lima sore, jadi saya ijin ke mamah untuk tiduran di kamar … seolah mengerti saya sedang tidak nyaman, mamah pun membangunkan saya disaat bedduk magrib/ Azan berkumandang, subhan Allah … Dibuatkan teh hangat dan Risoles untuk berbuka. Terima kasih untuk mamah luka hati yang baru saya alami sedikitnya terhapus sama kasih sayang mamah yang selalu tulus dan sangat pengertian sama saya selama ini.

 

Tentang lenterahidupku

Entah mengapa hidup, jadi semakin abstrak
Leave a comment

Posted by pada 1 September 2010 in Tak Berkategori

 

Kaitkata:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.